Memorandum Bulan Kemerdekaan

1
264
Yohanes Marto Jumat, Aktivis PMKRI Cabang Makassar.

Oleh Yohanes Marto Jumat

Kapan keadilan akan terwujud?
Dimana dapat aku timba keadilan?
“Aku katakan bahwa sesunggunya Aku belum merdeka”

Eksistensi bangsa Indonesia lahir dari rahim suku bangsa Nusantara yang beragam begitu pula dengan bahasa dan budayanya. Deklarasi sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan momentum politik yang sangat penting bagi sejarah kemerdekaan Indonesia, dimana pada saat itu muncul ide tentang Bangsa kesatuan Indonesia. Sebuah momentum politik yang lahir dari kesadaran kolektif seluruh suku bangsa Nusantara untuk berikrar menciptakan sebuah etnis besar bernama Indonesia yang berbangsa satu, berbahasa satu bertanah air satu, yaitu: Indonesia. Meskipun pada prosesnya muncul berbagai gejolak dan persoalan, namun spirit sumpah pemuda sebagai sebuah bentuk kebulatan tekad untuk berjuang secara kolektif kolegial membebaskan rakyat dari segala bentuk penindasan dan penjajahan Kolonial. Kesadaran kolektif itu akhirnya terbukti dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1945, dengan Pancasila sebagai dasar Negara.

Soekarno dan Hatta memproklamasikan Republik Indonesia sebagai Negara yang merdeka pada tanggal 17 agustus 1945 bersama para pejuang kemerdekaan. Mereka mewariskan nasib dan masa depan Bangsa untuk generasi yang akan datang melalui suatu tugas yang diemban oleh pejabat dan pemimpin Negara saat ini untuk membangun dan menyejahtrakan rakyat sesuai dengan cita-cita dan semangat Pancasila.

Kini, Indonesia memasuki usai yang ke 73 tahun, tentu adalah rentan waktu yang cukup panjang Indonesia tumbuh dalam dinamika perubahan baik secara politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Demikian tujuh presiden naik turun tahta membahasan kasih dan ketulusan, kejujuran dan keadilan. Tujuh presiden telah banyak mengumbar janji riuh rendah, namun tetap saja sampai hari ini masi saja tetap terdengar teriakan orang-orang kecil yang memaki keadilan yang tidak pernah berpihak. Amanah UU dan cita-cita pancasilah mengenai keadilan sosial seolah hanya sebagai pelengkap sempurna sandiwara. Lantas ke mana Rakyat pergi untuk menimba keadilan?

Mengutip kalimat Soekarno “perjuangan Ku lebih mudah karena mengusir para penjajah, dibandingkan perjuangan Mu akan susah sebab melawan bangsa Mu sendiri” kini ucapan tersebut seperti sebuah sabda, segala pesoalan yang terjadi di negeri seolah terjadi untuk melengkapi Firman dari sang founding Father itu. Politik yang dimainkan dengan penuh nafsu, kelicikan, dan bermacam tipu daya yang sungguhnya tidak akan pernah menciptkan kebaikan, kesejatraan dan keluhuran. Seolah cita-cita politik bukan lagi untuk kemaslahatan umat Manusia, bukan lagi untuk kebaikan dan kesejatraan, akibatnya relasi beradap antara umat manusia pun sungguh dilanda haru biru konflik.

Ujaran kebenncian yang berbau SARA kian menggema bak sabda yang menghancurkan. Manusia seperti kesumat dendam yang pendam lalu menjadi bara yang membakar murka. Amarah dan dendam disuarakan seolah mau mencari siapa pahlawan dan siapa pengkhianat, namun kita lupa seolah menutup mata untuk melihat hasil dari semua konflik yang keras dan tajam tersebut hanya satu yaitu: korban. Lalu untuk apa luka dan pedih kita tukarkan bersama dengan kemurkaan dan dendam? Untuk apa slogan “mata diganti mata”, “gigi diganti gigi atau darah diganti darah”, untuk apa semua isarat kebencian itu jika hanya membuat hubungan antara manusia menjadi retak dan kemanusiaan kita justru tercelah. Lantas di mana keadilan itu takala Cinta ditadas Cerca?

Keadilan Sosial: Bagai Pungguk Merindukan Bulan

Ada sesuatu di dalam diri kita yang seperti burung pungguk. Sebuah pepatah lama yang menggambarkan se-ekor burung yang pada malam hari hinggap di dahan yang tenang dan memandang ke Bulan. Orang tua kita memakai adegan itu untuk melukiskan sebuah hasrat yang sia-sia, sebuah cinta yang tak samapi “bagai pungguk merindukan bulan”. Dan kita seakan mendengar suara unggas yang serak, suram dan sedih seperti suara cinta yang dilagukan oleh Coldplay, To Fix You “when you get what’s you want but not what you need”.

Selalu ada dalam diri kita yang seperti se-ekor burung pungguk dengan atau tanpa cinta yang tak terbalas. Kita terbang untuk mendapatkanya tapi tidak mampu untuk mencapai apa yang kita niatkan, sementara di bawah kita gaya gravitasi Bumi. Kita hinggap di dunia yang kontingen di pohon yang tumbuh menjulang dari tanah dalam waktu yang terus berubah.

Kesadaran tersebut tiba-tiba dirasa penting. Ia bukan keasikan berkhayal seorang gelandangan yang duduk sendirian dengan segelas kopi dan seabatang rokok, tapi ini menyangkut orang banyak. Terutama jika Kita sering mendengar berbagai berita dari berbagai media, tentang teriakan orang yang memaki keadilan yang tidak pernah berpihak: kemiskinan, korupsi, pengangguran, utang negara yang mencapai miliaran dolar, kekayaan alam yang dicuri orang-orang asing, pembunuhan, terorisme dan sebagainya. Kini yang terdengar hanyalah cema, cemas, cemas dan jiwa kepemimpinan yang hilang.

Kritik memang bebas diteriakan, tetapi pemerintah lebih menggemari lelucon mereka sendiri. Wakil rakyat hanyalah segudang brisik. Sementara rakyat terjembak di gang buntu sebuah kampung orang gila. Yang dahulu pernah berharap, yang dahulu pernah punya agenda, yang dahulu pernah melihat bahwa nun jauh di sana ada titik terang gemilang seperti Bulan, kini telah tibah pada sebuah kesimpulan ”kami hanyalah burung-burung pungguk”

Lantas berputus asah? Atau mesti bertambah bijaksana? Entalah..! Namun yang kita ketahui bahwa masa depan yang berkeadilan itu tak pernah memberi isarat akan datang. Mungkin tidak akan pernah datang. Dalam arti Revolusi atau pun reformasi tak pernah berakhir, perjuangan belum selesai “for fighting netion there is no journey’s end”.

Di tahun 1945 Indonesia dengan harapan, kemerdekaan (baca: kiasan bung Karno) adalah “jembatan emas” ke arah masarakat yang adil dan makmur. Tapi kini kita mengerti bahwa ada yang salah dengan metafora itu. Jembatan yang dimaksud adalah sebuah konstruksi yang dibangun terus menerus sebab telah menumpuk unggukan reruntuhan menggrogoti bumi tempat kita berpijak seperti lubang-lubang mengangah bagai liang lahat yang acak. Ada bau bangkai, ada bekas kegagalan, ada jejak mereka yang tersesat. Kemerdekaan adalah sebuah jembatan yang ambruk berkeping-keping.

Tahun 1966, awal rezim Orde Baru ingin mengoreksi rezim lama dengan terobosan pembangunan ekonomi, hasilnya adalah penindasan dan utang negara kian menumpuk. Tahun 1998 rezim Orde Baru tumbang, teriakan revolusi dikumandangkan dan bisa, hasilnya dikibarkan. Rezim silih berganti. Namun tampak hasilnya hanyalah sebuah pekerjaan yang belum usai. Seperti kata Chairil Anwar, dalam sebuah sajak tentang mereka yang gugur untuk Indonesia yang merdeka “kerja belum selesai”, dan itu berarti hamparan reruntuhan yang masih menumpuk. Kian lama puing itu kian menjulang dan kita yang melihatnya seraya terbang maju bagaikan malaikat sejarah dan akhirnya hanya bisa menyerah “sekali pungguk tetap pungguk”.

Dengan kata lain kita akan kecut hati, namun dunia tampak lebih bandel dan Bulan begitu jauh. Tapi apakah yang terjadi seandainya sejarah tidak bergerak karena Dunia tidak coba diubah? Kita ragu adakah kita punya banyak pilihan, kita bisa untuk tidak percaya bahwa hal ihwal yang mendukung keputuasahan kita adalah KKN, kemiskinan, ketidakadilan, pembunuhan, terorisme dan intoleransi adalah suatu totalitas yang saling terkait dan kompleks. Mungkin kita bisa memilih untuk tidak mengubah dunia secara lengkap, sebab masalah yang begitu kopleks terlalu berat untuk diatasi jika pemimpin tidak jujur dan sikap negarawan yang hilang, maka mesti dimulai dari diri kita sendiri, hal yang terkecil adalah “bersikaplah adil sejak dalam pikiran” seperti kata Paulo Freire.

Barangkali kita memang tidak bisa menyalakan si pungguk, ia memang merindukan Bulan, tetapi Bulan itu sesuatu yang riil. Menyediakan sebuah arah yang bersih terangnya dan kuat pukaunya. Sebuah arah yang menggairahkan yang menyediakan sumber energi. Lalu Kitapun menempuh perjalanan dan kita akan mencapai satu titik untuk kemudian berangkat ke titik yang lain. Sebuah progresifitas, bukan gerak mabuk yang sebebarnya mati.

Tentu bulan tetap bulan dan si pungguk tak mungkin sampai, namun sejarah tampaknya bergerak karena kita punya harapan yang mustahil dan perlu. Maka Aku pertanyakan kembali di mana letak militansi Mu pemuda dan Mahasiswa.

Salam merdeka !!! Salam perubahan !!!

Oleh Yohanes Marto Jumat
Penulis adalah putra Asal Kabupaten Manggarai Timur, Flores-NTT
Aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Makassar.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here