Catatan Pameran Pembangunan

0
149
Alfred Tuname (Foto : istimewa).

Oleh Alfred Tuname

Pameran pembangunan sudah menjadi tren. Nyaris setiap Pemda di NTT menyelenggarakannya. Biasanya, pasca HUT RI, tanggal 17 Agustus. Setiap tahun diadakan.

Rutinitas pemeran dibuat. “Stand-stand” dibangun. Acara-acara digelar. Pentas-pentas dilombakan. Semua dimaksudkan untuk memeriahkan pameran.

Filosofinya, kemerdekaan melahirkan pembangunan. Ups, pembangunan tak berarti kesejahteraan. Persis seperti apa yang ada pameran. Nilainya, nihil. Hanya ada foto-foto tak bernilai dan diagram statis birokratis.

Pameran itu kata dasarnya “pamer”. Maknanya mengalami peyorasi. Kita sering dengar celoteh, sok pamer, show of. Artinya lainnya, gagah-gagahan. Aliran Postmodern menyebutnya “hyper reality”.

Jadi, ada kecenderungan manipulasi dalam setiap pameran. Kalau ada unsur manipulasi, seharusnya ada yang mewah dari sebuah pameran. Anggap saja manipulasi itu ditafsir sebagai optimisime (pembangunan).

Apa jadinya apabila pameran itu tak menyentuh sisi optimisme. Optimisme pembangunan dipagar oleh politik anggaran: tak ada dana. Kadang dimengerti sebagai alasan klise untuk imajinasi kreatif yang jongkok.

Padahal, masyarakat ingin menyaksikan gegap-gempita dari apa yang dipamerkan: apa yang sudah dibuat pemerintah dan apa optimismenya. Persis seperti masyarakat ingin menyaksiskan burung merak yang menujukan kemolekan bulu-bulunya.

Di Kabupaten Ngada, masing-masing instansi Pemda bersaing unjuk kreativitas seperti burung merak. Semacam ada persaingan dan gengsi. Yang kerja adalah para THL yang gajinya ditahan berbulan-bulan (mungkin, bendahara menyimpannya di Sibuhar koperasi dan bank dengan spekulasi keuntungan dari bunga).

Di Kabupaten TTU, pemeran pembangunan jadi “pasar malam” di depan kantor Bupati. Semua berjibaku untuk mengais keutungan ekonomi di pameran pembangunan. Itu cukup baik, sebab rakyat tidak pasif dalam pameran (asiknya, ada gerakan napak tilas sejarah Kefamenanu yang selenggarakan dengan perlombaan jalan bersama).

Seperti itu juga di Kabupaten Manggarai. “Pasar malam” di pameran pembangunan menguntungkan pihak pemerintah dan swasta. Ada retribusi yang menguntungkan. Pemerintah siapkan stand, pihak swasta siapkan dana. Mutualisme ekonomi berjalan baik. Persis seperti pasar malam, masyarakat terhibur di lapangan Motang Rua. Cuaca dingin tak jadi halangan.

Di Kabupaten Manggarai Timur, angin malam menjadi tantangan. Pameran Pembangunan diadakan di pinggir pantai. Tanpa penerangan listrik yang baik, masyarakat tak sadar wajahnya sendang dilumuri abu. Pemerintah tak peduli masyarakatnya berjibaku seperti budak yang menghadapi abu. Masyarakat kian pasif. Stand-stand dinas tanpa kunjungan; warung tanpa pengunjung; hiburan panggung tanpa tepuk tangan. Pengunjung lebih menikmati pojok-pojok remang dan gelap.

Itulah yang tampak dari setiap event pameran pembangunan. Tak ada yang baru, selain foto-foto yang baru dan keluhan para pegawai THL. Tak ada reward, hanya ada perintah: wajib jaga.

Selebihnya, ada “eksploitasi” kreativitas para siswa sekolah (SMP dan SMA). Mereka “diwajibkan” tampil. Para guru pun bekerja maksimal. Meski pun para siswa itu tak diberi makan (malam), para guru tak mendapatkan “penghormatan” yang layak, mereka tetap bersedia menghibur pengujung. Semua hanya “makan puji”. Seperti zaman Orde Baru, guru dan murid diwajibkan menjadi “pagar betis” ketika pejabat datang.

Padahal, kalau bupatinya punya punya insting seni dan visioner, pameran pembangunan pasti akan dibuat sedemikian megah dan memanjakan masyarakat. Pameran itu adalah “wajah” pemerintah di hadapan publik. Di situ, ada capaian; ada prospek.

Nah, pameran itu seperti rambut di kepala. Kalau penataan rambut saja tidak urus, itu berarti ada yang tidak beres dengan pribadi. Kalau pemaran pembangunan tidak diurus, berarti ada yang tidak beres dengan pembangunan. Jangan-jangan, tak ada pembangunan yang layak dipamerkan ke publik.

Jika estetika dan visi pembangunan yang jadi “rotor” event pameran, maka pameran pembangunan tentu akan mendapatkan manfaat bagi semua. Di sana, lapis-lapis masyarakat akan berjibaku dan aktif ambil bagian. Bukan hanya pegawai pemerintah dan pebisnis yang terlibat, tetapi segenap unsur masyarakat.

Sebab, pemaran pembangunan itu merupakan event bersama menikmati apa yang sudah buat oleh pemerintah dan masyarakat, sekaligus merayakan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Unsur politik pembangunan, budaya dan kohesi sosial seharusnya menjadi penyemarak pemerah pembangunan.

Orang Manggarai itu mengenal filosofi “natas bate labar”. Halaman/lapangan sebagai tempat bermain. Jika filosofi itu didekatkan dengan konsep pameran pembangunan, maka semua orang akan bisa menikmati pameran itu.

Sebab, filosofi natas bate labar mensyaratkan kebersamaan yang aktif dan kreatif. Hasilnya, menyenangkan. Pameran itu dekat dengan “labar/ bermain” yang bergelimang rasa gembira.

Tanpa kegembiraan publik, pameran pembangunan hanya menyisahkan sinis dan ketidakpercayaan publik kepada pemerintah. Selebihnya, pemerintah dianggap gagal menyelenggarakan pembangunan dan politik harapan (politics of hope).

Alfred Tuname
Penulis Buku “le politique” (2018)

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here