Di Ruteng, Warga Keluhkan Banyak Lalat Akibat Peternakan Ayam Petelur

0
468
Lalat di rumah milik Alfonsius Dabur warga Kelurahan Compang Tuke. (Foto: Beritaflores).

RUTENG, BERITA FLORES — Warga Mena meminta penutupan kandang peternakan ayam petelur milik CV. Tri Mitra Bahagia. Pasalnya, usaha ternak ayam petelur yang terletak di Mena, Kelurahan Compang Tuke, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai itu dianggap meresahkan warga setempat.

Warga sekitar lokasi peternakan ayam, Alfonsius Dabur mengatakan, sejak berdirinya usaha ternak ayam di wilayah mereka sangat meresahkan. Hal ini disebabkan bau busuk yang sangat menyengat. Bahkan banyak lalat masuk ke dalam rumah mereka.

“Sejak hadirnya aktivitas Peternakan Ayam Petelur milik Baba Yudi, kami merasa terganggu sekali karena banyak lalat masuk ke dalam rumah kami,” ujarnya kepada wartawan saat dikonfirmasi di kediamannya Kamis, 31 Januari 2019.

Alfons menjelaskan, warga Compang Tuke selalu mengeluh dengan banyaknya lalat sejak berdirinya peternakan ayam di lokasi tersebut. Meskipun warga setempat kerap kali mendatangi pengusaha peternakan ayam bernama Baba Yudi untuk menyampaikan keluhan mereka. Namun tak pernah digubris oleh pemilik usaha untuk berupaya mengatasi masalah lalat itu.

“Sejak pertama ada peternakan ayam ini, warga selalu protes. Karena kandangnya dekat sekali dengan pemukiman warga. Hanya berjarak beberapa meter saja pak. Sudah bau busuk, menghasilkan banyak lalat. Tentu ini tidak baik untuk kesehatan warga sini,” cutus dia mengungkapakan.

Untuk mengatasi masalah ini, jelas Alfons, dirinya telah berupaya menggunakan lem lalat yang dipasang di kertas perak. Untuk itu, lalat yang hinggap di kertas akan lengket dan mati. Cara itu, kata dia, terpaksa dilakukan bertujuan untuk meminimalisir jumlah lalat yang masuk ke dalam rumah miliknya.

Dia mengaku, ribuan bahkan jutaan lalat setiap harinya mati di kertas yang sudah ia pasangi lem. Alfons menegaskan, tak ada cara lain untuk mengatasi masalah tersebut selain menutup usaha peternakan ayam milik Baba Yudi.

Sementara itu, warga lainnya, Selestinus S Surono mengatakan, kehadiran peternakan ayam di wilayah mereka sangat membahayakan bagi kesehatan warga setempat. Bahkan lalat, kata dia, hinggap di makanan maupun minuman yang hendak disuguhkan kepada tamu di rumah mereka.

“Malu juga kita suguhkan kopi atau makanan kepada tamu yang datang, karena lalat pasti lebih dahulu masuk ke dalam gelas atau tempat nasi,” keluhnya.

Dia mengaku, selama ini pengusaha peternakan ayam petelur itu terkesan apatis dengan keluhan warga setempat.

“Kami pernah melaporkan masalah ini kepada pak RT juga dengan pihak Kelurahan Compang Tuke. Tetapi hingga saat ini tidak ada solusi dari mereka,” ungkap dia.

Selestinus mengaku, warga setempat pernah diundang oleh pihak Kelurahan Compang Tuke untuk membicarakan masalah tersebut. Namun kata dia, pengusaha peternakan ayam petelur, Baba Yudi tidak menghadiri rapat kala itu. Sehingga tidak dapat menyelsaikan masalah.

Dia menuturkan, rapat itu digelar sekitar petengahan tahun 2018 lalu di Kantor Kelurahan Compang Tuke.

Meski demikian, Baba Yudi jelas dia, pernah menyampaikan permohonan maaf kepada sejumlah warga Kelurahan Compang Tuke. Baba Yudi pun lanjut dia, telah mengakui bahwa keberadaan lalat yang begitu banyak disebabkan oleh kapasitas ayam di kandang miliknya semakin bertambah jumlahnya.

“Yang jelas dia (Baba Yudi) telah mengakui dan pernah meminta maaf atas masalah ini. Jadi kami minta solusi untuk segera tutup saja atau pindah ke tempat lain peternakan ayam ini,” tandasnya.

Meski ada permohonan maaf, namun menurut warga setempat, permohonan maaf itu tidak menyelsaikan persoalan. Bahkan kini, lalat semakin banyak di wilayah Compang Tuke.

Di samping itu, pemilik toko Violeta ini mengaku sangat dirugikan dengan keberadaan peternakan ayam petelur di wilayah mereka. Sebab, mini market miliknya dipenuhi lalat setiap harinya.

“Sangat merugikan pak. Pengunjung selalu protes dengan kita karena banyak lalat hinggap di barang jualan,” papar dia.

Warga mendesak pihak Direktur CV. Tri Mitra Bahagia untuk segera menutup peternakan ayam petelur miliknya di lokasi tersebut. Sebab, sangat mengganggu kehidupan warga setempat.

Kandang Peternakan Ayam Petelur milik CV. Tri Mitra Bahagia di Mena, Kelurahan Compang Tuke, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. (Foto: Beritaflores).

Dikonfirmasi secara terpisah, Penanggung Jawab Usaha Peternakan Ayam Petelur CV. Tri Mitra Bahagia, Mbah Surip mengatakan, pihaknya tidak ingin memberikan keterangan pers kepada awak media. Sebab, dirinya harus berkoordinasi terlebih dahulu kepada Baba Yudi sebagai pemilik usaha.

Meski begitu, dia mencoba menghubungi Baba Yudi melalui telepon selulernya. Namun anehnya respon Baba Yudi malah meminta awak media untuk meninggalkan lokasi peternakan. Baba Yudi pun enggan memberikan penjelasan secara detail terkait masalah lalat di Compang Tuke.

Mbah Surip mengaku, Baba Yudi sebagai pemilik usaha Peternakan Ayam Petelur ini berdomisili di Surabaya, Jawa Timur. Dengan begitu, sulit untuk mendapatkan konfirmasi terkait persoalan ini.

Berdasarkan pantauan awak media di beberapa rumah warga terdapat banyak lalat. Baik yang hinggap di meja makan, dapur maupun kamar mandi dipenuhi lalat. Bahkan di kamar tidur pun dimasuki lalat. Sementara pantauan di lokasi kandang peternakan ayam petelur tersebut, bahwa kotoran ayam begitu banyak menumpuk di lantai kandang.

Bau busuk pun sangat menyengat akibat kotoran yang menumpuk di kandang ayam milik Baba Yudi ini.

Informasi yang diperoleh Beritaflores.com bahwa sekitar 7.000 ekor lebih ayam petelur milik Baba Yudi dipelihara oleh peternak dengan luas kandang sekitar 1 hektare. (NAL/FDS/BEF).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here