Lantik dan Matim

0
175
Alfred Tuname (Foto : istimewa).

Oleh Alfred Tuname

Lantik itu pengangkatan seseorang. Seseorang diresmikan dalam mendapatkan jabatan atau posisi tertentu. Pada peristiwa lantik itu, ada yang meraih, ada juga yang melepas jabatan atau posisi. Itu biasa dalam pemerintahan yang berdemokrasi.

Pemerintahan baru Kabupaten Manggarai Timur (Matim), dimulai dari peristiwa lantik bupati dan wakil bupati. Tanggal 14 Februari 2019 adalah “valentine politik” terindah bagi masyarakat Matim. Pesannya, lantik menghapus perbedaan politik; ema dite taung.

Karenanya tidaklah heran, orang Manggarai Raya di Kupang memeriahkan peristiwa pelantikan itu dengan ritual dan tarian budaya. Mereka bergembira mengantar pemimpin Matim menuju peristiwa paling sakral dalam politik: lantik. Aula El Tari Kupang menjadi saksi bisu peristiwa pelantikan: Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat  melantik Agas Andreas, SH., M.Hum dan Drs. Jaghur Stefanus menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Manggarai Timur.

Pada tahun 1960, Presiden Amerika John F. Kennedy dalam inagurasinya menegaskan kembali janji kampanyenya, “to get this country moving again”. Persis seperti itulah makna inagurasi politik di Matim: “to get Matim moving again”. Bahwa Matim harus bergerak dan terus bergerak menjadi lebih baik.

Tahun 2017 dan 2018 adalah tahun yang penuh dengan energi politik di Matim. Kasak-kusuk politik lokal membuat roda pemerintahan tampak oleng. Energi politik habis membelah birokrasi dan mencengkram simpul-simpul sosial.

Di 14 Ferbruari 2019, semua itu sudah selesai. Fragmentasi birokrasi dan sosial habis ditelan “valentine politik”. Seantero masyarakat Matim telah terisap dalam isomorf politik “Matim Seber”(:Matim Sejahtera, Berdaya dan Berbudaya). Simpul-simpul yang bengkok telah lurus kembali. Lurus kembali berarti mendukung pemerintahan Agas Andreas, SH., M.Hum dan Drs. Jaghur Stefanus.

Setiap warga tentu punya caranya sendiri dalam mengambil sikap mendukung. Apabila ada pihak yang mengambil posisi “oposisi”, itu wajar dalam berdemokrasi. Mungkin saja, larutan emosional politik terlampau kental sehingga ada rasa enggan mengakui kemenangan politik lawan. Atau boleh jadi, ada perasaan trumatik berpolitik sehingga membuatnya gagal “move on”. Ini biasa.

Tetapi itulah politik. Kepentingan bisa mendeteksi kawan atau lawan. Mutatis mutandis Chairil Anwar, “yang bukan kawan tidak boleh ambil bagian”. Demokrasi memang memelihara distingsi itu. Sebab, demokrasi menghendaki sesuatu yang dialektis, bukan hipokrisi.

Jika politik terlampau berwatak sarkastik (kawan versus lawan), maka “valentine politik” dimaknai sebagai eliminasi garis pembatas kawan versus lawan. Sebab, kepemimpinan baru Matim menghendaki sikap sehati (ca nai) membangun Manggarai Timur: sama-sama bekerja dan kerja bersama-sama. Atau dalam bahasa satiris Kennedy, “ask not what your country can do for you- ask  what you can  do for your country”. Dengan begitu, distribusi keadilan bisa menjangkau segala lapisan masyarakat.

Peristiwa lantik pun bermakna “distribution of hope”. Semua cita-cita dan ikhtiar akan segera direalisasikan. Visi dan misi pasti diekstraksikan. Dan harapan akan menjadi “stopwatch” yang adil akan semua itu. Artinya, longitude waktulah yang akan membuktikan semua usaha perwujudan “Matim Seber”. Pembangunan selalu ada meskipun dalam durasi cepat atau lambat.

Pembangunan itu akan diukur dengan capaian-capaian dan pelayanan publik yang prima. Semua itu tentu bukan hanya menjadi komitmen bupati dan wakil bupati, tetapi harus menjadi komitmen aparatur pemerintahan (birokrasi) dan masyarakat itu sendiri.

Bahwa mental dan gerak birokrat mesti seirama dengan optimimisme pemimpin daerah. Kepatuhan dan taat pada kerangka visi-misi ditunjukan dengan kerja dan kinerja yang maksimal. Selebihnya biarkah masyarakat (swasta) ambil bagian dalam kerja pembangunan (pembangunan yang parsitisipatif). Toh, muaranya adalah kebaikan bersama.

Kebaikan bersama itulah masyarakat Manggarai Timur yang sejahtera, berdaya dan berbudaya. Kemiskinan terentaskan, infrastruktur memadai, tingkat melek huruf tinggi, akses lapangan kerja terbuka, dan lain sebagainya. Semua itu tak mustahil bagi pemimpin yang berpikir besar dan kemauan yang kuat. Dalam adagium klasik Inggris, “where there’s a will, there’s a way”.

Peristiwa lantik menjadi gerbang lebar untuk membuka jalan bagi “dwi tunggal” Agas Andreas dan Jaghur Stefanus untuk merealisasikan pikiran dan kemauannya membangun Manggarai Timur. Mereka sudah dipercaya oleh sebagian besar masyarakat, maka biarkanlah mereka memimpin Manggarai Timur cara dan gayanya.

Dengan peristiwa lantik, masyarakat percaya bahwa mereka telah memilih pemimpin yang benar. Karenanya, yakinlah bahwa pemimpin terpilih itu akan menjalankan kebijakan-kebijakan yang benar, bukan yang gampang; do what is right, not what is easy. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, membangun Manggarai Timur itu tidak gampang. Tetapi dengan kebijakan yang benar (tepat sasaran), “Matim Seber” akan tercapai dengan mudah.

Akhirnya, mari berpesta sebab esok pagi kita harus sama-sama bekerja dan kerja bersama-sama!

*Penulis Buku “le politique” (2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here