Lelaki Bukan Malaikat Pada “Kamis Putih”

0
312
Buku "Lelaki Bukan Malaikat" karya Mario F. Lawi (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Alfred Tuname*

Di perjamuan paling kudus

Kucium kakimu.  

Kudengar denting menggelindingi

Dinding telingaku.

Entah ini milik senyummu

Ataukah berasal dari hikayat

Anggur ayahku yang memabukan.

(Naimata, 2012)

Itu sajak penyair Mario F. Lawi (:Mario). Judulnya, “Kamis Putih”. Buku antologi puisi “Lelaki Bukan Malaikat” (Gramedia, 2015) terbaca di musim penghujan menjelang “Paskah” bagi orang kristiani.

Tentu, puisi-puisi Mario dalam “Lelaki Bukan Malaikat” bukan hanya untuk umat kristiani. Tafsirnya bisa apa saja. Betul kata  Sapardi Djoko Damono dalam endorsmentnya, “… penghayatan dan pengalaman baru yang tidak lagi perlu dibatasi oleh keyakinan apa pun”.

Jadi, membaca puisi-puisi Mario F. Lawi adalah membaca universalitas nilai kemanusiaan yang berpijak pada iman. Di situ, ada syukur, ketakwaan, protes, tobat, dan lain sebagainya. Dasarnya, cinta kasih kepada sesama manusia.

Pada “Lelaki Bukan Malaikat”, Mario sedang menawarkan nilai-nilai itu. Sebagai penyair, ia meresapi nilai-nilai universal biblis lalu dijabarkan dalam bahasa yang puitik. Itu sangat menarik.

Sebab “isi kepala” penyair tak mungkin lepas dari pergulatan jiwa (dan soal keimanannya). Soal semua itu, ia bisikan melelui puisi. Dengan puisi, ia menghaluskan jiwa dan membina kemanusiaan.

Dalam Lyrical Ballads (1800), penyair william Wordsworth menulis, “penyair adalah manusia yang berbicara pada manusia lain. Manusia yang benar-benar memiliki rasatanggal yang lebih peka, kegairahan dan kelembutan jiwa yang lebih besar” (Maman S. Mahayana, 2005).

Mario ada di seputar itu. Sebagai “manusia yang berbicara” juga berbisik melalui puisi, sang menyair “menanggalkan” jubah keimanannya dan ditahtakan  di altas kata-kata. Itulah persembahan bagi kemanusiaan dan peradaban.

Lalu, penyair membiarkan pembaca berebutan menafsirkannya. Sebab, makna selalu tak tunggal. Makna sajak tak kenal argumentum ad baculum, tetapi sangat dekat dengan semacam “argumentum ad misericordiam”.  

Artinya, jika sajak sudah menyentuh rasa, hanya ada hiburan dan debaran “ekstasi”. Mengutip Chairil Anwar, “Sudah larut sekali/Hingga hilang segala makna/Dan gerak tak punya arti (Hasan Aspahani, 2016).

Lalu puisi “Kamis Putih” melarutkan pikiran kita pada suatu hari sakral dalam “tri hari suci” umat kristiani: Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci. Ketiga hari itu dirayakan dengan ekaristi suci sebelum hari raya Minggu Paskah.     

Yang khas di hari Kamis Putih adalah penciuman kaki yang sombolis. Di perjamuan paling kudus/Kucium kakimu. Itu dimaknai sebagai pemberian maaf yang paling agung. Dalam bahasa biblisnya, “memaafkan 70x7x (tujuh puluh kali tujuh kali).  Dengan memaafkan, mereka yang dimaafkan dibersihkan dari kesalahan (dosa) dan beban.

Memaafkan itu bisa dimengerti sebagai “perjamuan paling kudus”. Sebab seperti dalam perjamuan, memaafkan itu membawa suasana riang, tak ada beban, tak ada basa-basi. Dalam perjamuan, setiap orang menikmati kebersamaan yang egaliter. Duduk bersama, dan makan dari tempat dan rasa yang sama.

Dalam kebersamaan itulah ada senyum yang menggelinding, tersambut senyum sang liyan. Ada hikayat yang membebaskan satu dengan yang lain. Dalam bahasa Marx, “the first time as tragedy, the second as farce”. Mulanya adalah tragedi, setelahnya hanyalah kejenakaan (dalam kehidupan).

Semua itu adalah tentang “anggur yang memabukan” dari dia yang disapa “Causa Prima” dalam filfasat Aristoteles. Anggur itu bisa dimengerti sebagai pemberian kebebasan kepada manusia. manusia boleh “mabuk” menggunakannya.

Tetapi melalui “anggur” pula manusia diselematkan. Dalam iman kristiani (Katolik), anggur dan hostia (Latin, artinya kurban; disebut juga Roti Sakramen) adalah simbol tubuh dan darah Salvator Mundi. Dalam iman orang kristiani, Ia lelaki bukan malaikat, tetapi Tuhan. Dengan menyambut-Nya (dalam ritual Ekaristi), ada kebangkitan dan kebebasan abadi. Saat itu, entitas manusia “diputihkan” kembali.

Itu tentang puisi “Kamis Putih”. Meski tampak samar, penyair membahasakan imannya dengan jelas. Dasarnya, nihil est intellectu quod non prius  fuerit in sensu: mustahil sesuatu yang ada di pikiran tanpa didahului oleh pengalaman. Penyair membagi pengalamannaya dalam bentuk yang lain:puisi.

Penyair sudah menulis. Penyair sudah bersajak. Pembaca mencecapnya. Yang beriman sama meresapinya. Kita semua menafsirnya, tanpa dibatasi keyakinan.

Akhirnya, denting Alexander Pope  ikut menggelinding di telinga dalam sajak “The Universal Prayer” (pada Juni, 1738):

Thou Great First Cause, least

Understand,

Who all my sense confin’d

To know but this, that Thou art good,

And that myself am blind..

Salam sastra.

*) Penulis dan Esais

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here