Pemberitaan Media Massa Dianggap Jadi Pemicu Kasus Bunuh Diri

0
799
Albina Redempta Umen,Spsi. (Foto: Dok. Pribadi).

RUTENG, BERITA FLORES–Maraknya kasus bunuh diri akhir-akhir ini di wilayah Manggarai Raya, Provinsi NTT dipicu karena pemberitaan media massa yang berlebihan bahkan sangat vulgar.

Dilaporkan, hampir setiap bulan di wilayah Manggarai raya mengalami kasus bunuh diri. Bahkan melebihi dua korban dalam kurun waktu satu bulan.

Direktur Yayasan Mariamoe Peduli (YMP), Albina Redempta Umen,Spsi menjelaskan hal itu melalui siaran pers Rabu, 7 Mei 2019.

“Pemicunya menurut analisis lembaga kami adalah copying mekanisme pada kasus-kasus bunuh diri yang terdahulu, dan diberitakan secara masif oleh media-media massa tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya. Akhirnya publik belajar bahawa pola penyelesaian masalah salah satunya adalah dengan cara bunuh diri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bahwa istilah dalam ilmu psikologi adalah Mekanisme Copying yang Keliru dari para korban kasus bunuh diri. Sehingga para korban memiliki kecendruangan untuk meniru kasus bunuh diri sebelumnya.

Albina menyarankan, agar pemberitaan media massa sebaiknya lebih beorientasi mengedukasi publik dengan menghadirkan pendapat dan pikiran para pakar, terkait pemecahan masalah dan analisa ilmiah terhadap kasus, bukan justru membedah kasus, bahkan memaparkan secara detail kronologis kejadian, cara bunuh diri, alasan dan juga berisi interpretasi terhadap kejadian secara subyektif.

Praktisi Psikologi itu, mengungkapkan bahwa, fenomena maraknya kasus bunuh diri di Manggarai Raya sudah terbaca di riset YMP sejak awal tahun 2018 lalu.

Ia menerangkan bahwa, hal yang paling jelas terlihat pada ringkihnya ketahanan psikologis anak-anak dan remaja yang menjadi responden riset ini. Ketahanan psikologis dari masa ke masa cenderung mengurang. stressor yang harusnya hanya menyentuh level rendah pada orang umumnya, tapi pada kelompok anak dengan ketahanan psikologis yang rendah hal yang biasa bisa menjadi problem yang sangat pelik dan berujung pada jalan buntu, dengan mengahiri hidup.

Pola Asuh Menjadi Pemicu Utama

Albina menambahkan bahwa, pola asuh yang mengabaikan adversity quotient, atau kecerdasan mengelolah masalah pada anak. Bahkan orangtua cenderung membesarkan anak mereka dengan pola mengambil alih semua peran anak dan tidak membiarkan anak mengalami kegagalan.

“Anak-anak dididik hanya jadi pemenang dan tidak menyiapkan diri untuk kalah. Hal itulah yang membuat ketahanan psikologis anak-anak hari ini menjadi sangat rendah. Sulit menerima kekgagalan,” ungkap dia.

“Turbulensi sosial yang sangat cepat juga membuat anak-anak yang tidak kuat tersingkir dari pergualatan hidup dan cenderung kehilangan harapan. Dalam istilah kami, banyak anak-anak yang tersingkir atau tercecer dari frenzied social competition,” tutur dia. (EFREN POLCE/FDS/BEF).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here