Pada Saat Bertemu Bupati

0
164
Alfred Tuname (Foto : istimewa).

Begitu asiknya jika anak-anak muda bertemu bupati. Di ruang kerjanya yang luas, oksigen tampak penuh. Berpikir jadinya enak. Tidak kaku. Ada kopi juga. Inpirasi pun bertumbuh menjalar di saraf pikir.

Ceritanya, sekolompok anak muda kreatif Manggarai Timur bertemu bupati-nya. Mereka ingin menyampaikan ide-ide kreatifnya untuk membangun daerah. Motifnya, melu handarbeni. Rasa ikut memiliki dan kecintaan terhadap Manggarai Timur.

Tidak susah bertemu Bupati Kabupaten Manggarai Timur, Agas Andreas, SH., M.Hum. Sedikit mengantri di ruang tunggu, pasti dipanggil masuk. Maklum, sebagai pemimpin daerah, ada banyak tamu yang datang. Tak perlu juga ke rumah jabatan bupati, sebab penyampaian ide-ide anak muda itu berkaitan urusan publik bukan urusan privat.

Pada anak muda itu adalah orang-orang kreatif yang baru selesai mensukseskan kegiatan “Trail Adventure 2019” di Kabupaten Manggarai Timur. Sekitar 80 bikers mengikuti kegiatan itu dan berhasil menjelajah wilayah selatan Kabupaten Manggarai Timur. Kegiatan itu sukses atas kerja sama yang baik antara Polres Manggarai, Pemda Manggarai Timur, Bank NTT dan Palang Merah Indonesia Kabupaten Manggarai Timur. Tujuan kegiatan itu promosi bentang pariwisata Kabupaten Manggaria Timur.

Tak mau berhenti pada kegiatan “Trail Adventure 2019”, para anak muda itu ingin terus berkarya. Masing-masing mereka punya segala bakat yang melekat. Ada penulis, musisi, atlet, pelobi, youtuber, fotografer, sutradara, petualang, budayawan, sastrawan, pencita otomotif, dan lain-lain. Itu sedikit dari bakat-bakat mereka. Semua bakat itu hendak dipadukan untuk menghasilkan karya nyata yang kreatif. Tentu mereka punya pekerjaan pokok masing-masing untuk melanjutkan hidup sehari-sehari.

Di ruang bupati, bakat-bakat kreatif disilangkan untuk melahirkan api semangat bangun Manggarai Timur. Ide-ide kreatif tumpahkan di hadapan hamparan visi dan misi “Matim Seber”. Bupati tampak tersenyum. Itu pertanda ada persetujuan, ada dukungan. Dukungan ada karena ide-ide yang ditawarkan itu “masuk akal”. Jelas, setiap kreativitas harus masuk akal dan terukur, bukan hanya tampil beda.

Penerimaan bupati atas ide-ide anak muda kreatif Manggarai Timur itu tentu karena ia paham karakter anak muda. Ia juga pasti paham ungkapan Bung Karno: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Atau orang Manggarai bilang, “ata uwa lako, ata tua lami loce”. Titik pijak pemuda ada pada daya ungkit dan daya dobrak bagi pembangunan.

Karena sang bupati paham kehidupan pemuda, maka ia pun masuk dalam bingkai pembicaraan dengan anak muda. Nyaris tak ada “kasta” dalam komunikasi. Tak ada struktur “eselon” dalam tutur. Semuanya egaliter dalam membicaraan ide. Ada serius, ada humor. Tetapi tetap ada sikap respek dan saling menghormati.

Suasana santai di ruang bupati itu perlu dibaca secara semiotik. Bahwa pemimpin yang egaliter adalah pemimpin yang menghargai pikiran (kreatif). Tak perlu ada strata pangkat atau jabatan dalam menyampaikan atau menerima pikiran (ide). Dalam suasana santai dan rileks, gaya pikir “strukturalis” berakhir dan hilang. Memang tak ada “birokrasi” dalam pikiran selain kritis dan kreatif.

Tanpa disadari, bincang-bincang bersama Bupati Agas Andreas berlangsung lama. Saking asiknya, waktu terasa tak cukup. “Big Brother is watching you”, mengutip George Orwell, adalah waktu itu sendiri. Bahwa bupati harus bertemu dengan kepetingan-kepentingan lain yang sedang menunggu. Yang semuanya itu berujung pada kepentingan masyarakat Manggarai Timur.

Seperti itulah pemimpin dambaan anak-anak muda (masyarakat): terbuka, rileks dan terarah. Karakter seperti itu melahirkan kedekatan antara pemimpin dan masyarakatnya. Anak-anak muda pun semakin confident sebab pikiran mereka didengarkan. Konsep regenerasi dan rejuvenisasi politik itu bermula dari situ: rekognisi pada kaum muda.

Selebihnya, Manggarai Timur masih butuh peran kaum muda: ambil bagian dalam peran pembangunan. Tidak menunggu, tetapi kaum muda mesti aktif dalam berproses membangun, dari desa hingga kota. Pemuda, karena ia punya idealisme. Kata Tan Malaka, “idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”.

Apabila idealisme itu berpadu dengan kebijkasanaan kaum tua (:pemimpin), maka kebaikan bersama akan mudah terwujud. Kombinasi idealisme dan kebijaksanaan adalah arus utama penyelenggaraan pembangunan yang berkeadilan. Semua itu bisa terjadi kalau ada duduk bersama, bicara bersama, ngopi bersama dan rileks. Bupati Manggarai Timur Agas Andreas sudah melakukannya.

Alfred Tuname
Esais, warga Manggarai Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here