Penguatan SDM Kunci Kemajuan Industri Pariwisata di Manggarai

0
250
Bupati Manggarai, Dr. Deno Kamelus, SH.,MH didampingi Dr. Frans Teguh, MA saat kegiatan pembukaan seminar dan sarasehan. (Foto: Ronald/Beritaflores).

RUTENG, BERITA FLORES-Penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci dalam mendukung kemajuan industri pariwisata di Kabupaten Manggarai, Flores-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bupati Manggarai, Deno Kamelus menjelaskan hal itu pada pembukaan kegiatan Seminar dan Sarasehan dengan tema “Akselerasi Pengembangan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo Flores”.

Kegiatan itu digelar di Hotel Revayah Ruteng, pada Senin, 30 September 2019 mulai pkl. 08.30 waktu setempat.

Penyelenggara kegiatan merupakan Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) dengan menghadirkan sejumlah stakeholder terkait antara lain; pelaku pariwisata, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Manggarai dan Manggarai Timur, Kepala Sekolah SMK, serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Manggarai.

Pada kesempatan itu Bupati Manggarai, Deno Kamelus mengatakan, Kabupaten Manggarai memiliki banyak destinasi wisata, seperti Wae Rebo, Liang Buah dan budaya Caci sebagai tarian khas Manggarai. Meski memiliki banyak tempat wisata menarik tetapi tidak diimbangi dengan kapasitas SDM masyarakat setempat. Bahkan pemerintah daerah dan pelaku pariwisata di Manggarai belum menata pariwisata sebagai sebuah industri sehingga bisa mensejahterakan masyarakat Manggarai.

Bupati Deno menambahkan, semua pihak diharapkan secara serius meningkatkan kapasitas SDM dalam rangka mendukung parwisata sehingga desain pengembangan sektor pariwisata dapat berjalan maksimal. Ia mengakui bahwa, pemerintah bersama stakeholder pariwisata membutuhkan lompatan besar untuk kemudian dapat memajukan pariwisata di NTT, khususnya di Manggarai.

“Kapasistas SDM harus diperkuat untuk kemajuan sektor pariwisata di Manggarai karena SDM yang dimiliki pemerintah daerah untuk mendesain pengembangan pariwisata sangat lemah,” ungkap dia.

Oleh karena itu, program pengembangan serta pembinaan SDM melalui pendampingan terhadap para pelaku pariwisata oleh BOP, perguruan tinggi, NGO (Non Government Organization) serta lembaga lainnya tentu berdampak positif pada kualitas SDM pelaku wisata.

Ia berharap, usai kegiatan tersebut digelar bisa menghasilkan konsep serta gagasan brilian sehingga bisa menumbuhkembangkan industri pariwisata di Manggarai. Bahkan, ia berharap, para pelaku pariwisata atau penyedia jasa dapat membuat terobosan baru untuk menjual berbagai macam potensi daerah. Termasuk keunikan budaya Manggarai untuk diciptakan melalui narasi agar bisa menarik kunjungan wisatawan.

Plh. Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo Flores, Fransiskus Teguh menuturkan bahwa, memajukan pariwisata tak bisa dikerjakan hanya oleh pemerintah saja tetapi semua stakeholder terkait termasuk melibatkan masyarakat secara masif agar bisa bermanfaat bagi kehidupan mereka.

“Selama ini menjadi perhatian pemerintah pusat selalu menyebutkan Labuan Bajo. Akan tetapi ke depan pemerintah pusat melalui BOP Labuan Bajo mengembangkan kabupaten lain di pulau Flores,” ujarnya.

Frans berharap kepada pemerintah daerah di Flores untuk mengidentifikasi semua potensi wisata yang ada. Sehingga BOP Labuan Bajo Flores dapat mengembangkan potensi wisata agar menjadi icon baru di masing-masing daerah. Untuk itu, bisa berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat di pulau Flores.

“Saat ini, Labuan Bajo berkembang dengan icon komodo dengan beberapa pulau eksotis. Daerah lain akan ikutan mengembangan destinasi pariwisata yang ada dimasing-masing kabupaten,” cetus dia.

Secara terpisah, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Wae Rii, Yustin Romas sebagai salah satu peserta kegiatan mengakui bahwa, pentingnya para pelaku pariwisata di Manggarai dibekali dengan kapasitas SDM melalui seminar agar mendapatkan pengetahuan yang luas sehingga bisa mengembangkan bidang pariwisata di daerah itu.

“Kami merasa gembira dengan adanya seminar seperti ini. Ini membuktikan semua pihak memperhatikan secara serius tentang pariwisata di Manggarai,” ujarnya kepada wartawan di sela-sela kegiatan tersebut.

Kepsek Yustin berharap, kegiatan seminar dan sarasehan ini dapat membentuk mindset para pengambil kebijakan untuk memformulasikan sejumlah gagasan cemerlang mendukung program pembangunan industri pariwisata di Flores lebih khusus di Kabupaten Manggarai.

“Kegiatan ini kita harapkan ada efeknya. Tentu kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini tetapi ada pergerakan selanjutnya. Sebagai contoh, begitu kembali ke sekolah kami bisa membuat dua kegiatan di sekolah seperti pelatihan barista. Kami sudah kirim anak didik kami di Niang Caffe, Kopi Mane untuk mereka belajar meracik kopi dengan aroma khas,” pungkas dia.

Ia meminta kepada pihak penyelenggara seminar BOPLBF agar kegiatan akan datang untuk mengundang lebih banyak para pelaku pariwisata. Sehingga konsep dan gagasan pada seminar bisa lansung diaplikasikan. Ia juga meminta Bupati Manggarai Deno Kamelus untuk mengalokasikan anggaran ke sekolah mereka. Sebab, pasca SMK dialihkan pengelolaan oleh pemerintah provinsi, kabupaten Manggarai tak lagi mengalokasikan anggaran kepada SMK. Padahal menurut Kepsek Yustin, pemerintah daerah harus memberikan perhatian khusus terhadap SMK sebagai produk pelaku wisata di daerah ini.

“SMK itu kan sekolah siap kerja, untuk itu jadi kan kami sasaran pelatihan keterampilan. Juga paling penting intervensi anggaran dari pemerintah daerah sehingga apa yang kita harapkan bisa terwujud melalui SMK,” tukas dia. (TIM/FDS/BF).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here