Deno Apresiasi Warga karena Sediakan Rumah jadi tempat Karantina

0
204
Bupati Manggarai melakukan pemantauan warga di Desa Wae Renca.

RUTENG, BERITA FLORES- Bupati Manggarai Deno Kamelus mengapresiasi warga Desa Wae Renca, Kecamatan Cibal Barat karena telah menyediahkan rumah milik mereka secara sukarela untuk dijadikan tempat karantina.

Ia menyampaikan apresiasi tersebut saat mengunjungi 30 orang warga yang dikarantina di Wae Renca pada Rabu, 22 April 2020.

Bupati Deno pun melakukan pemantauan secara langsung lokasi rumah karantina khusus di Desa Wae Renca, Kecamatan Cibal Barat. Fasilitas ini dipakai untuk dijadikan tempat karantina bagi pelaku perjalanan dari daerah terpapar.

“Saya senang atas inisiatif Pemerintah Desa Wae Renca karena telah menyediakan karantina terpusat untuk warga yang baru melakukan perjalanan pulang dari daerah terpapar COVID-19. Terus terang saya sangat mengapresiasi. Ini tindakan luar biasa yang dapat menjadi contoh bagi desa lain,” urai dia.

“Di sini warga menerima secara sukarela dengan menyediakan rumah untuk tempat karantina,” kata Deno.

Deno kemudian mengapresiasi inisiatif Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Desa Wae Renca. Deno juga mengapresiasi pemerintah Kecamatan Cibal Barat dan Pemerintah Desa Wae Renca karena turut mendukung kegiatan pengawasan selama masa karantina.

“Kalau di daerah lain warga yang baru datang dari daerah terpapar COVID-19 ditakuti bahkan mereka dikucilkan, tapi di sini kita temukan hal yang baik dan patut ditiru,”

Lebih lanjut Bupati Deno mengatakan bahwa sesuai dengan protokol Mereka memang harus menjalani Karantina Terpusat atau isolasi mandiri selama 14 hari. Rumah karantina terpusat itu bisa dibiayai oleh Dana Desa. Dia pun meminta pemerintah desa untuk merealokasi Dana Desa agar menangani pandemi COVID-19.

“Sebagai sesama manusia kita tidak boleh mengucilkan dan menolak kehadiran mereka di Manggarai karena mereka semua merupakan saudara dan saudari kita,” papar dia.

Di samping itu, Deno memberikan imbauan agar masyarakat senantiasa melaksanakan sejumlah protokol kesehatan seperti tetap jaga jarak, dan tidak melakukan penolakan terhadap pelaku perjalanan dari daerah terpapar COVID-19.

Ia menambahkan, warga Manggarai lainnya patut mencontohi sikap warga Wae Desa Renca itu.

Pada kesempatan itu juga, ia memberikan bantuan pangan berupa beras dan telur ayam dan masker.

Deno meminta warga yang menjalani masa karantina untuk patuh. Ia menjelaskan, sebanyak 30 orang warga tersebut sudah menjalani masa karantina 6 hari mulai Rabu kemarin.

“Saya mengimbau kepada warga yang dikarantina dan masyarakat Wae Renca agar selalu menjaga jarak, jauhi kerumunan massa, sering cuci tangan dengan sabun, pakai masker ketika keluar rumah dan selalu mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat untuk menambah imun tubuh sehingga bisa mencegah COVID-19,” ujarnya.

Deno mengatakan, Dana Desa (DD) akan digunakan untuk menangani wabah COVID-19 dan membiayai rumah yang dijadikan tempat karantina terpusat seperti yang tertuang dalam instruksi Kemendes RI.

“Mereka itu dikarantina terpusat oleh Pemerintah Desa Wae Renca selama 14 hari setelah kembali dari Bali. Riilnya ada 5 rumah yang dijadikan tempat karantina terpusat,” pungkas dia.

Bupati Deno mengatakan, pihaknya sengaja mendatangi Desa Wae Renca karena mendapat laporan dari Camat bahwa Desa Wae Renca tengah menyediakan karantina terpusat bagi warga dari daerah terpapar COVID-19.

Penjabat Kepala Desa Wae Renca, Hendrikus Sampur, mengatakan, pemberlakuan karantina terpusat bagi 30 orang warga itu merupakan inisiatif pemerintah setempat dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Hendrikus pun mengaku, penyediaan tempat karantina terpusat ini merupakan sebuah kebijakan Pemerintah Desa Wae Renca di mana setiap RT dan RW diwajibkan untuk menyediakan satu unit rumah khusus bagi warga terdampak yang baru pulang dari daerah terpapar COVID-19.

“Mereka ini disiapkan satu rumah khusus dengan akomodasi yang lengkap, seperti tempat tidur, kamar mandi, toilet serta makanan dan minuman. Kebijakan ini merupakan keputusan pihak desa bersama masyarakat,” terang Hendrikus.

Ia menambahkan, awalnya pihaknya mengkarantinakan 48 warga yang datang dari Bali dan sekarang sudah tersisa sebanyak 30 warga saja. Ada 18 warga lainnya telah selesai menjalani masa karantina dan berhak bergabung bersama keluarga mereka.

“Jadi 30 warga ini sisa dari 48 warga sedangkan 18 warga lainnya sudah selesai menjalani masa karantina,” ujar Hendrikus. (TIM).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here