Pengembangan Pariwisata Terintegrasi di Manggarai Raya

0
606
Flory Santosa Nggagur. (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh : Flory Santosa Nggagur

Dalam sebuah tulisan di awal Mei 2020 saya menyampaikan bahwa membangun Manggarai Raya akan lebih efektif apabila dilakukan dengan pendekatan sebagai satu kawasan ekonomi. Hal ini dimungkinkan karena tiga kabupaten di Manggarai memiliki latar belakang historis dan budaya serta karakter masyarakat yang sama. Dengan demikian maka synergy seharusnya mudah dibangun dalam upaya mengoptimalkan potensi ekonomi yang dimiliki yaitu Pariwisata, Pertanian dan Peternakan.

Pada kesempatan ini saya akan mengelaborasi lebih detail strategi pengembangan Kepariwisataan agar bisa memberikan dampak ekonomis yang lebih besar dan menyebar di beberapa destinasi baik di Manggarai Barat, Manggarai Tengah maupun Manggarai Timur. Tulisan ini diharapkan sekaligus mengingatkan Gubernur NTT akan janji kampanyenya pada saat pencalonan menjadi Gubernur NTT yaitu akan menjadikan sektor pariwisata sebagai prime mover pembangunan ekonomi di NTT.

Berbicara mengenai kepariwisataan di Manggarai tentu tidak terlepas dari magnit utama wisatawan yaitu binatang purba satu satunya di dunia yaitu Komodo di Manggarai Barat. Oleh karena itu maka semua strategi pengembangan yang dilakukan harus terintegrasi dengan upaya pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata Super Premium. Semua destinasi wisata di seluruh Manggarai Raya harus menjadi simpul-simpul yang tersambung menjadi sebuah jaring pemasaran pariwisata dengan centrum-nya adalah Labuan Bajo (Komodo).

Nilai Ekonomi Business Pariwisata Labuan Bajo

Pada tahun 2019 jumlah wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo sebanyak 184.206 yang terdiri dari wisatawan lokal 1.897 (1,03%), wisatawan domestik 79.690 (43,26%) dan wisatawan manca negara 102.619 (55,71%). Dengan asumsi pengeluaran rata-rata per wisatawan per hari sebesar Rp. 2.000.000 dan length of stay rata-rata 3 hari maka jumlah uang yang beredar dalam satu tahun sebesar Rp. 1,1 triliun.

Dengan penetapan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium dimana Pemerintah melakukan banyak perbaikan infrastruktur serta promosi pariwisata yang massif maka ditargetkan dalam 4 tahun ke depan jumlah wisatawan akan menjadi 500.000 per tahun dengan target length of stay lebih lama yaitu menjadi 5 sampai dengan 7 hari. Dengan asumsi target kunjungan wisatwan tercapai sebesar 70% dan length of stay menjadi 5 hari maka jumlah uang beredar dalam bisnis pariwisata di Manggarai per tahun bisa menjadi Rp. 3,5 triliun. Sebuah angka yang sangat fantastis.

Manfaat ekomonis dengan nilai yang fantastis tersebut bagaikan gula yang mengundang semut untuk mengambil bagian melalui kontribusi apa saja yang bisa dilakukan utuk menyambut wisatwawan. Sub sektor yang akan berkembang antara lain perhotelan termasuk homestay, transportasi, culinary, travel agent, pramuwisata, pertanian (sayur mayor dan buah), peternakan, dll. Uang beredar sebanyak Rp. 3,5 triliun per tahun akan terdistribusi ke berbagai sub sector tersebut.

Distribusi Manfaat Ekonimis

Ada dua aspek kunci untuk menganalisis distribsui manfaat ekonomis bisnis pariwisata di Manggarai yaitu “siapa” dan “di mana” manfaat tersebut terdistribusikan. “Siapa” menyangkut orang atau perusahaan atau pelaku usaha yang mampu memanfaatkan peluang, sedangkan “di mana” menyangkut destinasi wisata complementer yang tersebar di seluruh Manggarai.

Siapa saja yang berpeluang mendapat manfaat? Pertanyaan “siapa mendapat manfaat” bisa menjadi sangat sensitif mana kala dikaitkan dengan issue orang lokal dan pendatang. Dalam seminar dengan thema Akselerasi Pengembangan Destinasi Super Priorotas Labuan Bajo – Flores bulan Juli tahun 2019 di Labuan Bajo issue pemain lokal dan pendatang ini sempat mengemuka. Dalam seminar tersebut ada nuansa kekhawatiran dari pelaku usaha local akan tersingkir dalam persaingan usaha. Oleh karena itu ada desakan yang sangat kuat agar Pemda mengambil kebijakan yang protektif terhadap pelaku usaha lokal agar mereka bisa menjadi tuan di daerahnya endiri.

Pada kondisi tertentu kebijakan proterksi terbatas tentu saja bisa dilakukan tetapi secara umum dalam alam demokrasi ekonomi ini, semua orang berhak untuk memanfaatkan peluang dan mengambil manfaat dari berkembangnya sektor pariwisata di Manggarai. Pelaku usaha lokal yang menunggu difasilitasi dan diproteksi oleh Pemerintah Daerah akan tertinggal oleh pelaku usaha dari luar Manggarai yang sudah standby untuk membuka usaha di Manggarai. Bahkan saat ini sudah banyak pelaku bisnis asing yang beroperasi di Labuan Bajo.

Penetapan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas oleh Pemerintah Pusat tidak semata-mata untuk meningkatkan devisi negara dari sektor pariwisata tetapi terutama untuk pemerataan pembangunan ke wilayah Flores umumnya dan Manggarai khususnya. Masyarakat Flores yang tetap miskin dan tertinggal walau pun Indonesia sudah merdeka lebih dari 70 tahun, padahal memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Pengembangan pariwisata seharusnya bisa menjadi salah satu back bone dari peta jalan keluar (exit route) pengentasan kemiskinan NTT selain pertanian dan peternakan.

Diharapkan pelaku usaha lokal mulai membaca dan memanfaatkan dengan baik setiap peluang yang bisa diambil. Pelaku usaha lokal hendaknya jangan manja dengan selalu mengharapkan fasilitas kemudahan dan proteksi dari Pemda karena kemudahan dan proteksi dalam jangka panjang tidak mendidik dan tidak akan menciptakan pengusaha yang tangguh. Jangan salahkan Pemerintah Daerah apabila suatu saat sebagian besar pelaku usaha di Labuan Bajo adalah bukan orang Manggarai.

Pertanyaan berikutnya adalah “di mana” potensi ekonomi tersebut akan tersebar. Perlu selalau diingat bahwa pemilik historis semua keindahan alam dan eksistensi binatang purba Komodo adalah masyarakat Manggarai secara keseluruhan, oleh karena itu maka Pemda di tiga Kabupaten di Manggarai Raya juga harus menjamin bahwa manfaat ekonomisnya tersebar di seluruh Manggrai. Mekanisme ditribusinya tentu tidak dengan membagi-bagi pendapatan yang diterima di Labuan Bajo tetapi dengan mekanisme pemberdayaan dan pengembangan destinasi wisata complementer yang tersebar di seluruh Manggarai.

Alam dan budaya Manggarai sangat potensial untuk dikembangkan dan menjadi destinasi alternative bagi para wisatwan selain destinasi utama di Labuan Bajo. Mereka sudah membayar mahal untuk biaya perjalanan ke Manggarai, tentu akan sangat baik bagi mereka apabila bisa menikmati dan mengalami lebih banyak keindahan alam dan budaya Manggarai. Pemda dan masyarakat melalui BUMDES harus membangun destinasi alternative tersebut sehingga menjadi ramah terhadap wisatawan dan menciptakan momen yang layak dikenang setelah berkunjung ke destinasi tersebut (experience of local life).

Beberapa destinasi yang layak dikembangkan antara lain kampong adat di Wae Rebo, kampong adat di Ruteng Pu’u, persawahan tradisional di Cancar, Liang Bua di Ruteng, agrowisata perkebunan kopi di Colol, batu mistis di Kedel dan Wudi, danau bunga lotus Rana Tonjong, buaya darat (rugu) di Pota dan sekitarnya, pantai pasir putih dan hutan bakau yang indah di Dampek dan sekitarnya dan banyak lagi destinasi lainnya. Di setiap titik destinasi tersebut perlu dikemas atraksi budaya serta kerajinan dan kuliner lokal yang bisa dinikmati oleh para wisatawan.

Dengan terbangunnya banyak destinasi alternatif maka secara otomatis akan terjadi ditribusi
pendapatan dari sektor pariwisata dan menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar. Pekerjaan Rumah berikutnya adalah mengemas promosi secara masif serta packaging semua destinasi tersebut di atas menjadi simpul sebuah jaring yang bisa dijual dalam beberapa paket wisata.

Paling tidak ada empat paket wisata yang bisa dikemas dan djual kepada wisatawan untuk dinikmati setelah mereka berkunjung ke pulau Komdo atau bahkan sebelumnya. Pertama, area Labuan Bajo dan sekitarnya yaitu Batu Cermin, Gua Rangko, Cunca Wulang, dan Istana Ular. Kedua, area jalur selatan dan tengah Manggarai yaitu Wae Rebo, kampong adat Ruteng Pu’u, persawahan tradisional di Cancar dan Liang Bua di Ruteng. Ketiga, jalur Manggarai Tengah yaitu kampong adat Ruteng Pu’u, Liang Bua, persawahan tradisional di Cancar dan agrowisata kebun kopi di Colol. Keempat, jalur utara Manggarai yaitu tracking keberadaan buaya darat atau rugu di Pota dan sekitarnya, menikmati pasir putih dan hutan bakau di Dampek serta danau dengan hamparan bunga lotus terbesar di dunia yaitu di Rana Tonjong.

Intervensi Pemerintah

Saat ini Labuan Bajo dan Kepulauan Komodo sudah ditangani oleh TNK dan Pemerintah Pusat sehingga Pemda di tiga Kabupaten di Manggarai Raya bisa fokus pada upaya pembangunan dan pengembangan destinasi wisata pelengkap di seluruh kabupaten di Manggarai Raya. Dengan adanya banyak pilihan destinasi maka paket wisata akan lebih mudah dibuat dengan banyak pilihan yang disesuaikan dengan minat wisatawan.

Pemerintah daerah harus membangun akses (infrastruktur) ke semua destinasi agar mudah dijangkau dan dengan waktu tempuh yang lebih pendek sehingga lebih banyak waktu bagi wisatawan untuk menikmati pemandangan atau atraksi budaya di destinasi tujuan. Saya berharap bahwa Pemda di tiga Kabupaten di Manggarai bisa bekerjasama dan saling berkoordinasi dalam mebangun infrastruktur ke berbaga destinasi wisata tersebut agar bisa saling terhubung dengan kualitas yang baik.

Di destinasi tujuan Pemda dan masyarakat setempat juga harus menyiapkan fasilitas standard yang bisa membuat para wisatawan nyaman seperti penginapan, toilet umum yang bersih, air bersih dan kebersihan lingkungan. Tuntutan umum dari para wisatawan adalah kenyamanan dan higienis dan hal ini sering diabaikan oleh masyarakat kita sehingga juga sering menjadi keluhan wisatawan.

Hal lain yang memerlukan intervensi pemerintah adalah manajemen pengelolaan destinasi wisata. Di beberapa destinasi terjadi konflik antara masyarakat terutama terkait pengelolaan keuangan yang diterima dari wisatawan. Konflik ini dalam banyak kasus sangat kontra produktif karena berpengaruh pada kualitas layanan kepada wisatawan. Oleh karena itu diharapkan Pemda mengambil peran dan membuat standard pengelolaan tempat wisata dengan tetap mengutamakan manfaat yang semaksimal mungkin bagi masyarakat lokal.

Peran BOP Labuan Bajo – Flores

Sebagai penutup tulisan ini saya berharap bahwa BOP Labuan Bajo Flores mengambil peran sentral dalam semua upaya pembangunan pariwisata di Manggarai Raya. Dalam masa sepih kunjungan wisatawan selama covid-19 ini seharusnya menjadi kesempatan bagi BOP LBF untuk mempersiapkan blueprint pembangunan semua destinasi wisata di Manggarai sehingga pada saatnya nanti tinggal dieksekusi baik oleh Pemda maupun Pemerintah Pusat.
Fungsi koordinatif BOP LBF sesuai Pepres No. 32 tahun 2018 hendaknya dimanfaatkan secara maksimal.

Pemda di tiga kabupaten membutuhkan konduktor yang handal dalam menjembatani semua
kepentingan dan kebutuhan di masing-masing kabupaten sehingga menjadi suatu harmoni yang Indah untuk dinikmati wisatawan dan mensejahterakan masyarakat Manggarai. BOP LBF bisa Saya sangat percaya bahwa dengan otoritas yang dimiliki oleh BOP LBF, dukungan penuh dari Pemerinta Pusat serta dukungan anggaran yang memadai semua mimpi kita menjadikan pariwisata sebagai prime mover pembangunan di Manggarai akan terwujud. Semoga *)

Penulis adalah alumnus Fakultas Ekonomi UGM dan praktisi perbankan, tinggal di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here