Warga Diminta Perkuat Budaya Lonto Leok

0
146
Bupati Manggarai Deno Kamelus saat mengikuti acara peletakan batu pertama mbaru gendang Subu. (Foto: Dok. PKM Manggarai).

RUTENG, BERITA FLORES- Pembangunan rumah adat (Mbaru Tembong) dalam tradisi adat budaya Manggarai merupakan bagian dari upaya menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun temurun. Nilai-nilai luhur itu antara lain terbentuk dalam tradisi gotong royong dan Lonto Leok atau musyawarah untuk merumuskan kesepakatan-kesepakatan antara para pihak terkait.

Bupati Manggarai Dr. Deno Kamelus, SH.MH menjelaskan hal itu saat menghadiri ritus adat peletakan batu pertama pembangunan rumah adat gendang Subu, Desa Gelong, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai pada Senin, 3 Agustus 2020. Ritus adat peletakan batu pertama atau Cor bongkok ini sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah adat yang baru menggantikan rumah adat lama yang kondisinya rusak parah.

Perkuat Budaya Lontok Leok

Menurut Deno, budaya gotong royong dan Lonto Leok ini masih menjadi bagian terpenting dalam tatanan hidup orang Manggarai. Karena itu, untuk menghidupkan tradisi leluhur ini dibutuhkan kerja sama dari semua pihak termasuk masyarakat adat itu sendiri.

“Tidak benar budaya gotong-royong dan Lonto Leok ini telah memudar dalam budaya kita. Saya menemukan suatu pengalaman baru lagi di sini dan membuat saya berpikir bahwa masih ada di wilayah kita ini budaya gotong-royong dan Lonto Leok,” kata Bupati Deno.

Ia menjelaskan, rumah gendang adalah sebuah simbol bahwa kita masih menghargai nilai-nilai budaya Manggarai. Karena itu lanjut dia, apabila ada masyarakat yang membangun kembali rumah adat (gendang) maka tersirat pesan bahwa mereka masih menghargai nilai-nilai luhur budaya setempat.

“Kalau pemerintah selalu ikut dan hadir dalam pembangunan rumah gendang karena itulah alasannya. Saya bangga dan bahagia sekali karena saya bisa menemukan hal-hal luar biasa ini di sini,” paparnya.

Berdasarkan pantauan awak media, antusias masyarakat setempat dalam acara ini begitu tinggi. Itu terlihat ketika acara penerimaan Bupati Deno Kamelus bersama seluruh rombongan di Pa’ang atau halaman masuk kampung itu. Seremoni peletakan batu pertama pun dilakukan oleh Bupati Manggarai Deno Kamelus yang kemudian disusul oleh para tokoh masyarakat dan para tokoh adat setempat.

Dalam kesempatan yang sama, salah seorang tokoh masyarakat Adat Subu, Damasus Garus, mengutarakan rasa kebanggaannya atas kehadiran pemerintah daerah dalam ritus ini. Garus pun mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Manggarai yang telah memberikan perhatian terhadap pembangunan di kampung Subu.

“Saya merasa senang karena kehadiran Bupati Manggarai sebagai tanda dimulainya pembangunan gendang ini. Kampung ini mulanya sangat terpencil. Kami masyarakat adat kampung Subu menyampaikan limpah terima kasih atas seluruh perhatian Pemerintah kepada kami. Di mana masyarakat di sini telah menikmati jalan sejak 15 tahun lalu,” papar Garus sambil berharap agar pemerintah dapat memperbaiki jalan yang rusak menuju kampung tersebut serta menyediakan listrik.

Hal serupa diutarakan Ketua Panitia peletakan batu pertama pembangunan rumah adat Subu Maksi Bagul menjelaskan, pembangunan rumah gendang ini merupakan hasil dari kesepakatan bersama seluruh masyarakat adat, mengingat rumah gendang yang lama telah berusia 72 tahun dan dalam kondisi rusak berat. Komitmen masyarakat untuk membangun rumah gendang yang baru ini dengan mengumpulkan uang sebesar 1 juta per Kepala Kelurga (KK).

“Masyarakat begitu semangat. Prediksi pembangunan rumah gendang ini selama dua bulan selesai. Dengan prediksi biaya 250 juta. Total dana yang telah terkumpul dari warga sebesar 180 juta sampai saat ini,” ungkap dia.

Turut hadir dalam kesempatan ini sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Manggarai. Selain itu, hadir pula Camat Lelak, Gondolfus B. Nggarang, S.Fil, serta Kepala Desa Gelong dan perangkat desa lainnya. (TIM).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here