Padi Milik Isfridus di Lokasi Tambang Semen Tumbuh Begitu Subur

0
85
Maria Jelita, istri dari Isfridus Sota saat mengetam padi di ladang mereka di Bea Nekes, Kampung Lengko Lolok, Desa Satar Punda. (Foto: Beritaflores).

BORONG, BERITA FLORES — Padi milik petani di Kampung Lengko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur, NTT tumbuh begitu subur. Kini, warga di kampung itu mulai memanen hasil pertanian mereka pada Senin, 29 Maret 2021 lalu.

Kesuburan tanah di lokasi rencana tambang semen itu merupakan fakta yang tak terbantahkan. Selama ini sejumlah narasi kelompok pro tambang menyebut bahwa, wilayah Desa Satar Punda, wilayah tandus dan tidak subur merupakan informasi bohong (hoax).

Isfridus Sota seorang petani di Lengko Lolok, Desa Satar Punda saat mengetam padi di ladangnya. (Foto: Beritaflores).

Buktinya, Isfridus Sota warga Kampung Lengko Lolok, Desa Satar Punda berhasil menanam padi dan tumbuh begitu subur di lahan miliknya yang terletak di Bea Nekes termasuk dalam wilayah IUP (Izin Usaha Pertambangan) PT Istindo Mitra Manggarai (IMM). Bahkan Isfridus berhasil memanen padi di kebun miliknya dengan memperoleh hasil yang sangat memuaskan.

Isfridus Sota mengatakan, tahun ini dirinya memperoleh hasil yang cukup. Hasil sementara kata dia, sebanyak 8 karung padi karena hingga kini, belum memanen semua padi miliknya di lahan tersebut. Pekan depan, ia bersama warga setempat akan melanjutkan panen di lahan tersebut. Hasil padi di lahannya itu bisa mencapai 10 karung lebih jika semuanya sudah dipanen.

“Kami tidak menggunakan pupuk karena tanahnya memang subur. Padi di lahan saya setinggi manusia dewasa, karena sangat subur,” ujarnya kepada wartawan Sabtu, 3 April 2021.

Ia menjelaskan, dari hasil padi tersebut bisa menutupi makan setahun untuk keluarganya. Ia mengakui, tahun ini tidak mengerjakan semua lahan kosong miliknya karena keterbatasan biaya produksi. Apabila mengerjakan semua lahan kosong, maka akan memperoleh hasil yang cukup bahkan bisa dijual untuk menambah pendapatan selain menjual hasil komoditi.

“Tahun ini merupakan tahun hasil, kalau semua lahan kosong bisa dikerjakan hasilnya bisa melimpah,” pungkas dia.

Isfridus jiga meminta Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur agar membantu petani di Kampung Lengko Lolok untuk mencetak lahan sawah tadahan di Bea Mberong. Lahan rata seluas puluhan hektare tersebut kata dia, sangat cocok untuk dijadikan sawah tadahan.

“Apabila membuat sawah tadahan sangat cocok dan bisa menciptakan hasil yang memuaskan. Ia mengajak semua warga untuk bertani memanfaatkan kesuburan tanah,” ajak dia.

Sisilia Nade warga Kampung Lengko Lolok saat mengetam padi di ladang milik Isfridus Sota. (Foto: Beritaflores).

Menurut Isfridus, selain padi, wilayah itu juga sangat cocok untuk ditanam jagung. Di sana, sebagian besar warga memperoleh hasil panen jagung lumayan memuaskan dan bisa meningkatkan perekonomian warga. “Banyak warga menjual jagung, karena ini juga daerah penghasil jagung,” ungkap dia.

Baca: Bea Mberong, Padang Rumput yang Mempesona Terancam Rusak Akibat Tambang

Sementara itu, Direktur JPIC SVD, Pater Simon Suban mengatakan, alam sudah menunjukkan bahwa bisa memberikan yang terbaik untuk makhluk hidup terutama manusia dengan memanfaatkan segala yang ada di permukaan. Untuk itu, sentuhan atau campur tangan yang tepat dari manusia akan memberikan hasil yang maksimal dan berkualitas.

“Hanya orang malas yang berpikir bahwa alam ini tidak memberi dia yang terbaik. Bagi saya, alam dengan cara sendiri memberi kesaksian bahwa Lengko Lolok bukan daerah yang tidak subur atau tidak cocok untuk pertanian,” ujarnya kepada wartawan Sabtu, 3 April 2021.

Menurut Pater Simon, padahal apa yang dimakan oleh manusia semua berasal dari tanah. Uang atau barang apapun dari perut bumi, tidak bisa dimakan kecuali hasil pertanian. Realitas lahan subur tersebut menggugat semua orang yang berpikir bahwa Lengko Lolok itu tidak subur dan tidak cocok untuk pertanian. Wilayah Lengko Lolok dan alamnya adalah areal yang cocok untuk pertanian dan tidak perlu ditambang.

“Dengan demikian, hasil kebun petani di Lengko Lolok tahun ini memberitahu kita bahwa, Lengko Lolok dan alamnya cocok untuk pertanian,” kata Pater Simon.

JPIC berharap, hasil petani Lengko Lolok itu membuat pengambil keputusan untuk mengubah cara berpikir dan kebijakan tambang di sana dan menggantikannya dengan kebijakan pertanian, perkebunan, ternak, dan perikanan tentunya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Saat ini belum terlihat cukup jelas inovasi pertanian di Manggarai umunya dan Manggarai Timur khususnya. Inovasi pertanian sangat penting untuk efektivitas dan efisiensi bertani dan berkebun,” papar Pater Simon. (R11/RED).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here