Fokus Manggarai: Wisata Budaya dan Religi

0
43

Oleh: Kanisius Teobaldus Deki

Pariwisata menjadi isu penting dalam pembangunan nasional akhir-akhir ini. Hal ini memang beralasan. Secara nasional, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2014 telah mencapai 9% atau sebesar Rp. 946,09 triliun. Sementara devisa dari sektor pariwisata pada tahun 2014 telah mencapai Rp. 120 triliun dan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 11 juta orang (Buku Saku Kementerian Pariwisata, 2016).

Kenyataan ini mendorong Pemerintah untuk terus menggenjot sektor pariwisata. RPJMN 2015-2019 telah menjadikan pertumbuhan pariwisata sebagai salah satu strategi dari akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Hal itu beralasan. Bahkan saat masa pandemi Covid-19, kunjungan wisatawan mancanegara terus mengalir. Data BPS Pusat (2021) memperlihatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara bulan April 2021 sebanyak 127. 512 orang, walau menurun dari kondisi Januari 2021 yakni 137. 230 orang.

Di Kabupaten Manggarai, pengembangan sektor pariwisata menjadi salah satu fokus penting. Melalui Visi: “Manggarai yang Maju, Adil dan Berdaya saing” Pemerintah Daerah (Pemda) memandang sektor pariwisata sebagai leading sektor. Dalam konteks misi memajukan ekonomi, sektor pariwisata menjadi salah satu domain utama yang didukung oleh sektor-sektor lain. Hal itu dirumuskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode 2016-2021 dan 2022-2026.

Wisata Budaya dan Religi

Ada pertanyaan yang menggelitik, mengapa wisata budaya dan religi? Pertanyaan ini lahir dari rasa ingin tahu tentang fokus yang ingin dicapai oleh Pemda Manggarai. Dalam banyak kesempatan Bupati Hery Nabit menyampaikan bahwa pemetaan potensi pariwisata Manggarai berbasis kekayaan daerah yang secara nyata dimiliki. Pariwisata alam dengan pesona yang khusus seperti hewan langka Komodo telah menghipnotis wisatawan untuk berbondong-bondong ke Manggarai Barat. Selain itu, keindahan alam bahari, pulau-pulau dan kekayaan alam bawah laut telah menyihir pelancong untuk datang ke kabupaten ini.

Bagaimana dengan Manggarai? Tak dapat dipungkiri, Manggarai juga memiliki kekayaan alam yang indah. Bentangan pegunungan Mandosawu yang menawan hati, pantai berpasir putih, persawahan dengan pola pembagian berbasis nilai budaya dalam bentuk lodok juga memukau jiwa.

Setara dengan kekayaan itu, perkampungan tradisional Wae Rebo menjadi magnet yang memiliki daya tarik tersendiri bagi tamu internasional. Pun Liang Bua sebagai cagar wisata khusus sangat diminati oleh banyak wisatawan dari seluruh penjuru dunia.
Semua potensi wisata itu sudah menjadi pengetahuan bersama. Namun ada yang belum menjadi fokus: Manggarai memiliki kekayaan budaya dan religi. Hal itu tampak dalam banyak aspek kehidupan. Dari sisi filosofis, Manggarai memili tatanan nilai yang kemudian terekspresi pada pola pikir “Gendangn one, lingkon pe’ang”. Gendang bukan saja sekedar sebuah rumah. Ia memiliki makna sebagai pusat kehidupan. Lingko bukan saja sebuah kebun komunal. Ia melambangkan dialektika kehidupan yang darinya kehidupan itu terus dilestarikan.

Pola perkampungan Manggarai yang eksotik ditandai oleh struktur yang tetap. Pa’ang olon-ngaung musin. Ada bagian depan kampung, ada bagian belakang. Ada tempat orang hidup, ada tempat orang mati yang diantarai oleh Compang (altar persembahan) dan Natas (lapangan bermain). Kampung-kampung adat di Kota Ruteng menyajikan sebuah pemandangan yang elok, secara kasat mata memperlihatkan sebuah struktur filosofi kehidupan masyarakat Manggarai.

Upacara-upacara adat (ritual) membahasakan adanya persambungan yang mutlak antara kehidupan dengan sumber kehidupan. Sebuah hubungan yang menjamin keberlangsungan nilai, perilaku dan tujuan. Upacara-upacara bukan saja membahasakan sebuah ritme kehidupan. Ia secara gamblang menegaskan arti kehidupan. Melalui upacara-upacara itu, manusia Manggarai menjadi mahkluk berpribadi dengan karakter kemanggaraiannya. Ia memiliki relasi vertikal dan serentak horizontal.

Demikian halnya dengan hasil karya ciptaannya mempresentasikan jati dirinya baik dalam bahasa, system matapencaharian, organisasi sosial, system pengetahuan, kesenian dan system religi. Manggarai kaya dengan berbagai macam keseniannya. Tari Caci dipentaskan secara spektakuler dalam setiap perhelatan akbar. Danding, Sanda dan Mbata mengekspresikan kesenian dalam semua aspeknya. Roko Molas Poco menjadi sebuah ritual langka yang tiada duanya di dunia. Ia menjadi jembatan konseptual untuk merumuskan keseimbangan ekologis sekaligus sebuah epistemology kehidupan bagi relasi manusia dengan Sang Pencipta.

Sejalan dengan kekayaan budaya dan religi asli Manggarai, Ruteng dikenal dengan sebutan sebagai kota religius. Gereja-gereja tertata apik. Menara-menaranya tinggi menjulang menjangkau langit. Biara-biara religius ada di mana-mana. Prosesi-prosesi keagamaan dijalankan secara intens menjadi event tahunan. Jalan Salib bersama yang berpusat di Lapangan Motang Rua menjadi salah satu ikon wisata religi. Selama bulan Mei dan Oktober perarakan Arca Bunda Maria dijalankan sebagai ungkapan iman. Perarakan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung kota ini.

Di bulan Desember setiap tahun, kota ini dihiasi lampu warna-warni dan patung sinterklas di setiap lokasi strategis. Pesona natal terasa di mana-mana. Natal menjadi moment di mana ekspresi seni dalam setiap keluarga ditampilkan. Suasana Natal menjadi situasi sukacita yang dinantikan setiap tahun. Dibangun lagi konsep-konsep acara khusus seperti yang pernah secara simultan dilakukan beberapa waktu lalu: konser lagu Natal dan pementasan teater Natal. Dalam kalenderium wisata, Desember menjadi salah satu kesempatan yang indah.

Tanggung Jawab Bersama
Ketika kota ini memfokuskan dirinya pada kota wisata budaya dan religi, maka ia menampilkan diri sebagai kota yang ramah nilai. Masyarakat Manggarai membangun lagi karakter khasnya sebagai pribadi dan komunitas yang ramah dengan tamu (adak tiba meka). Pola bahasa yang dipakai mempertimbangkan sopan santun. Setara dengan itu, tata krama, hidup yang beretika dan bermoral dipraktikkan sebagai ciri khas orang Manggarai.
Keindahan kota dijaga. Kita dibiasakan untuk membuang sampah pada tempatnya. Kebersihan rumah, kantor, lapangan, jalanan menjadi pemandangan yang sudah seharusnya. Kota menjadi bebas sampah. Bunga-bunga ada di mana-mana sebagai Kota Molas (Kota Cantik).

Kota ini memiliki ruang-ruang terbuka hijau tempat setiap orang bisa melepas lelah dan rekreasi bersama keluarga dan sahabat. Ia memiliki perpustakaan yang bisa diakses oleh pencari ilmu dan informasi. Ia memiliki museum tempat kekayaan budaya disimpan dan dipamerkan secara elegan. Ia memunyai gedung kesenian tempat pementasan teater, musik dan aneka wujud kesenian.

Kampung-kampung dengan pola perkampungannya dipertahankan sesuai struktur awalinya. Rumah-rumah gendang mempresentasikan nilai-nilai filosofis orang Manggarai. Penghidupan kembali kisahan-kisahan tradisional yang memberi muatan bagi keberadaan kampung dan pemberian arti bagi eksistensi nilai dan penghayatan hidup. Itu artinya, Natas-natas kita ramah terhadap pejalan kaki dan bebas dari kendaraan bermotor untuk menjaga kesakralannya. Sedapat mungkin tidak dibangun jalan beraspal di sana. Modernisasi jalan hanya dibolehkan paving block.

Di setiap Rumah Gendang terdapat sekolah budaya untuk meneruskan nilai-nilai budaya, mempelajari tradisi. Torok-torok sebagai doa asli orang Manggarai tidak hanya dipraktikkan saat ritus berlangsung. Pengetahuan tentang torok diajarkan. Sehingga ada regenerasi nilai dan aspek budaya kepada generasi baru. Gereja menjadi rumah doa yang senantiasa memiliki pintu terbuka. Ia menjadi rumah bagi semua yang mencari kedamaian, ketenangan dan penghiburan.
Pelestarian budaya dan religi berakar pada tujuan pembangunan karakter, pelestarian nilai dan pembangunan ekonomi. Tiga tujuan mulai ini mendorong kita untuk bahu membahu, bekerja sama dengan Pemda, tokoh-tokoh adat, pelaku pariwisata, UMKM dan masyarakat untuk mewujudkan impian ini. Manggarai, khususnya Kota Ruteng menjadi salah satu destinasi dengan kekhasan pada budaya dan religi. Ia menjadi kota yang dirindukan dan keistimewaannya mewajibkan tamu datang kembali.***

Penulis merupakan Staf Pengajar STIE Karya, Peneliti Lembaga Nusa Bunga Mandiri

Previous articlePemerintah Desa Benteng Suru Salurkan BLT Untuk 146 Kepala Keluarga
Next articlePlan Indonesia Berhasil Ubah Perilaku BABS Warga Dusun Mahima

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here